Anak Terus Haus dan Lapar, Kenali Tanda Diabetes Sebelum Terlambat Anak yang meminta minum setelah berlari, bermain di luar rumah, atau mengonsumsi makanan asin tentu bukan sesuatu yang aneh. Nafsu makan yang meningkat juga dapat muncul ketika anak sedang mengalami pertumbuhan pesat. Namun, orang tua perlu lebih waspada apabila rasa haus dan lapar muncul terus menerus, terutama bila disertai buang air kecil semakin sering, berat badan turun, mudah lelah, atau anak yang sebelumnya sudah tidak mengompol kembali membasahi tempat tidur.
Kombinasi keluhan tersebut dapat menjadi tanda diabetes melitus pada anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI mengingatkan anak yang lebih sering haus, sering buang air kecil atau kembali mengompol, cepat lapar, kehilangan berat badan tanpa alasan yang jelas, mudah lelah, serta mengalami penglihatan kabur perlu diperiksakan kepada dokter. Gejala tersebut penting dikenali karena diabetes pada anak terkadang baru diketahui ketika kondisinya sudah berat.
Diabetes bukan penyakit yang hanya ditemukan pada orang dewasa. Anak dan remaja juga dapat mengalami diabetes tipe 1 maupun tipe 2 dengan penyebab serta penanganan yang berbeda.
Rasa Haus Berlebihan Bukan Sekadar Anak Suka Minum
Haus merupakan mekanisme alami tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan. Anak dapat minum lebih banyak ketika cuaca panas, banyak berkeringat, demam, atau baru melakukan aktivitas fisik.
Hal yang perlu diperhatikan adalah perubahan dari kebiasaan sehari hari. Anak yang sebelumnya cukup minum beberapa kali mungkin mulai berulang kali mencari air, terbangun pada malam hari untuk minum, atau merasa mulutnya tetap kering meskipun sudah menghabiskan banyak cairan.
Dalam diabetes, kadar glukosa di dalam darah meningkat. Tubuh kemudian berusaha membuang kelebihan glukosa melalui urine. Proses tersebut ikut menarik lebih banyak cairan keluar sehingga volume urine bertambah.
Akibat kehilangan cairan yang semakin besar, tubuh memberikan sinyal haus untuk menggantikan air yang terbuang. Itulah sebabnya rasa haus berlebihan dan sering buang air kecil kerap muncul secara bersamaan.
NIDDK memasukkan rasa sangat haus dan peningkatan frekuensi buang air kecil sebagai gejala umum diabetes. Pada anak dengan diabetes tipe 1, kedua keluhan tersebut dapat berkembang cukup cepat dalam hitungan hari atau minggu.
Anak Cepat Lapar Meski Sudah Banyak Makan
Rasa lapar terus menerus juga dapat terdengar bertentangan dengan diabetes. Darah memiliki kadar gula tinggi, tetapi tubuh seolah tetap meminta makanan.
Masalahnya berada pada kemampuan tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi.
Insulin merupakan hormon yang membantu glukosa digunakan oleh berbagai sel tubuh. Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh merusak sel beta pankreas yang menghasilkan insulin. Akibatnya, produksi insulin menjadi sangat rendah atau berhenti.
Ketika glukosa tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya, tubuh dapat merespons seolah kekurangan energi. Anak kemudian lebih mudah merasa lapar meskipun sudah makan.
NIDDK mencantumkan rasa lapar yang tetap muncul setelah makan sebagai salah satu tanda diabetes. Pada anak dengan tipe 1, pola yang cukup khas adalah makan semakin banyak tetapi berat badan justru turun.
Keadaan inilah yang perlu menarik perhatian orang tua. Nafsu makan besar pada anak yang sedang tumbuh biasanya diikuti kenaikan berat badan dan pertumbuhan. Bila anak makan banyak tetapi tubuh semakin kurus, pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda.
Sering Kencing Menjadi Petunjuk Penting
Anak yang semakin sering pergi ke toilet dapat memberikan petunjuk lebih jelas daripada rasa haus dan lapar saja.
Orang tua dapat memperhatikan apakah anak mulai meminta izin ke toilet berkali kali selama sekolah, sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil, atau menghasilkan urine dalam jumlah lebih banyak dibandingkan biasanya.
Pada balita yang masih menggunakan popok, orang tua dapat melihat popok menjadi jauh lebih cepat penuh.
IDAI menyebut kombinasi banyak minum, banyak makan, dan sering kencing sebagai gejala klasik diabetes pada anak. Anak yang sebelumnya sudah mampu mengontrol buang air kecil juga dapat kembali mengompol.
Mengompol tentu mempunyai banyak penyebab lain sehingga satu kejadian tidak berarti seorang anak pasti mengalami diabetes.
Kewaspadaan meningkat ketika mengompol muncul kembali bersama rasa haus berlebihan, sering kencing pada siang hari, penurunan berat badan, dan kondisi tubuh yang semakin lemah.
“Menurut penulis, perubahan kebiasaan anak sering memberikan petunjuk paling awal. Orang tua tidak perlu menunggu anak terlihat sangat sakit apabila pola minum, makan, kencing, dan berat badannya berubah secara bersamaan.”
Berat Badan Bisa Turun dengan Cepat
Salah satu tanda diabetes tipe 1 yang cukup khas adalah kehilangan berat badan tanpa direncanakan.
Tubuh membutuhkan energi untuk menjalankan seluruh aktivitas. Ketika glukosa tidak dapat digunakan secara normal akibat kekurangan insulin, tubuh mulai mencari sumber energi lain.
Cadangan lemak dan jaringan tubuh dapat digunakan sehingga berat badan berkurang meskipun anak tetap makan, bahkan dapat merasa lebih lapar daripada sebelumnya.
NIDDK menyebut penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebagai salah satu gejala tipe 1. Pada anak, kombinasi sering kencing, banyak makan tetapi kehilangan berat badan, serta rasa sangat haus termasuk pola yang perlu segera diperiksa.
IDAI juga memasukkan penurunan berat badan tanpa sebab jelas sebagai tanda yang perlu diperhatikan keluarga.
Orang tua tidak harus menunggu perubahan berat badan menjadi ekstrem. Celana yang mendadak longgar, pipi terlihat semakin tirus, atau angka timbangan yang terus berkurang dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi.
Anak Bisa Terlihat Sangat Lelah
Keluhan lain yang mudah dianggap sebagai kelelahan biasa adalah tubuh lemas.
Anak mungkin tidak lagi bersemangat bermain, lebih sering berbaring, sulit mengikuti olahraga, atau terlihat mengantuk pada waktu yang tidak biasa.
Kelelahan memang mempunyai banyak penyebab. Kurang tidur, infeksi, anemia, jadwal sekolah padat, dan berbagai kondisi lain dapat membuat anak terlihat lemas.
Namun, apabila kelelahan muncul bersama haus berlebihan, sering kencing, rasa lapar yang tidak biasa, dan penurunan berat badan, pemeriksaan gula darah perlu dipertimbangkan.
WHO mencantumkan rasa lelah, haus, peningkatan frekuensi buang air kecil, perubahan penglihatan, dan kehilangan berat badan yang tidak disengaja sebagai gejala diabetes.
Pada tipe 1, keluhan dapat berkembang jauh lebih cepat daripada tipe 2.
Diabetes Tipe 1 Banyak Ditemukan pada Anak
Diabetes pada anak tidak hanya terdiri atas satu jenis. Dua kelompok yang paling sering dibicarakan adalah diabetes tipe 1 dan tipe 2.
Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh menyerang sel pankreas yang memproduksi insulin. Anak kemudian membutuhkan insulin sebagai terapi utama. Hingga kini, tipe 1 belum memiliki cara pencegahan yang terbukti dapat diterapkan secara umum.
IDAI menyebut tipe 1 sebagai jenis diabetes yang paling sering ditemukan pada anak. Penyakit ini bukan muncul hanya karena anak terlalu banyak makan makanan manis.
Poin tersebut penting karena keluarga terkadang merasa bersalah ketika anak didiagnosis tipe 1.
Makanan manis tidak menyebabkan sistem kekebalan tubuh tiba tiba merusak sel pembentuk insulin. Faktor genetik dan proses autoimun mempunyai peran pada tipe 1.
Karena itu, memberikan label bahwa seorang anak terkena diabetes tipe 1 karena terlalu sering makan permen merupakan penyederhanaan yang keliru.
Diabetes Tipe 2 Juga Bisa Terjadi pada Remaja
Tipe 2 mempunyai mekanisme berbeda.
Pada kondisi ini, tubuh masih menghasilkan insulin tetapi tidak dapat menggunakannya secara efektif. Keadaan tersebut dikenal sebagai resistensi insulin.
Dahulu diabetes tipe 2 sangat identik dengan orang dewasa. Sekarang kasusnya juga ditemukan pada anak dan remaja. CDC menyebut semakin banyak anak, remaja, dan dewasa muda mengalami tipe 2.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko pada anak antara lain berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, riwayat diabetes tipe 2 dalam keluarga, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, serta riwayat ibu mengalami diabetes saat hamil.
Masa pubertas juga mendapat perhatian karena perubahan hormon pada periode tersebut dapat membuat tubuh lebih sulit menggunakan insulin secara efektif.
Berbeda dengan tipe 1 yang sering muncul cepat, gejala tipe 2 dapat berkembang perlahan. Sebagian anak bahkan hampir tidak merasakan keluhan pada tahap awal.
Anak Kurus Tetap Bisa Mengalami Diabetes
Salah satu kesalahpahaman yang masih sering ditemukan adalah anggapan bahwa diabetes hanya terjadi pada anak dengan berat badan berlebih.
Hal tersebut tidak benar.
Anak dengan diabetes tipe 1 dapat memiliki tubuh kurus dan justru kehilangan berat badan ketika penyakit mulai berkembang.
Karena itu, bentuk tubuh tidak dapat digunakan sebagai satu satunya dasar untuk menilai ada atau tidaknya diabetes.
Anak yang terlihat kurus tetapi mengalami haus berlebihan, sering kencing, terus lapar, mudah lelah, dan berat badannya terus turun tetap membutuhkan pemeriksaan.
Sebaliknya, anak dengan berat badan berlebih juga tidak otomatis mempunyai diabetes tipe 2.
Diagnosis hanya dapat ditegakkan melalui penilaian tenaga kesehatan dan pemeriksaan yang sesuai.
Kembali Mengompol Jangan Langsung Dimarahi
Anak yang sudah lama tidak mengompol kemudian kembali membasahi tempat tidur terkadang dianggap malas pergi ke toilet.
Padahal, peningkatan produksi urine dapat menjadi salah satu tanda diabetes.
Bila kadar glukosa darah tinggi membuat tubuh mengeluarkan lebih banyak urine, kandung kemih anak menjadi lebih cepat penuh. Hal itu dapat terjadi juga pada malam hari.
IDAI secara khusus memasukkan kembali mengompol sebagai salah satu keluhan yang perlu diperhatikan dalam pengenalan diabetes pada anak.
Respons pertama sebaiknya bukan memarahi atau mempermalukan anak.
Orang tua dapat mengamati apakah anak juga minum lebih banyak, lebih sering buang air kecil pada siang hari, kehilangan berat badan, atau menjadi mudah lelah.
Informasi tersebut kemudian dapat disampaikan kepada dokter saat pemeriksaan.
Penglihatan Kabur dan Infeksi Berulang Juga Bisa Muncul
Diabetes tidak selalu menunjukkan seluruh gejala klasik secara bersamaan.
Sebagian anak dapat mengeluhkan pandangan terasa kabur. Ada pula yang mengalami infeksi berulang, kulit terasa kering, atau luka membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
NIDDK mencantumkan penglihatan kabur, kelelahan, luka yang sulit sembuh, dan infeksi yang berulang sebagai gejala yang dapat ditemukan pada diabetes.
IDAI juga menyebut infeksi jamur, luka sulit sembuh, kulit gatal dan kering, serta penglihatan kabur sebagai keluhan yang dapat ditemukan.
Tidak semua anak akan mengalami seluruh gejala tersebut.
Itulah sebabnya dokter perlu melihat keseluruhan keluhan, pemeriksaan fisik, serta hasil laboratorium sebelum menentukan diagnosis.
Jangan Menunggu sampai Anak Mengalami Ketoasidosis
Masalah paling serius muncul ketika diabetes tipe 1 baru terdeteksi setelah anak mengalami ketoasidosis diabetik atau KAD.
Kondisi tersebut terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan insulin berat. Karena glukosa tidak dapat digunakan dengan baik, tubuh memecah lemak dalam jumlah besar dan menghasilkan keton.
Ketika keton menumpuk, darah menjadi terlalu asam dan kondisi anak dapat memburuk dengan cepat.
IDAI mengingatkan KAD merupakan keadaan gawat yang cukup sering membawa anak dengan diabetes yang belum terdiagnosis ke fasilitas kesehatan.
Tanda yang perlu mendapat perhatian segera meliputi:
- Anak semakin lemas
- Muntah berulang
- Nyeri perut
- Napas cepat dan dalam
- Bau napas menyerupai buah atau aseton
- Dehidrasi
- Penurunan kesadaran
NIDDK juga mencantumkan kesulitan bernapas, rasa sangat lelah, napas berbau buah, pingsan akibat dehidrasi, nyeri perut, mual, serta muntah sebagai gejala KAD.
Anak dengan tanda tersebut membutuhkan pertolongan medis segera dan tidak sebaiknya hanya dipantau di rumah.
Pemeriksaan Gula Darah Menentukan Diagnosis
Rasa haus dan lapar tidak cukup untuk memastikan diabetes.
Dokter dapat menggunakan beberapa jenis pemeriksaan darah sesuai kondisi anak. Pemeriksaan dapat berupa gula darah puasa, gula darah sewaktu, HbA1c, atau tes toleransi glukosa oral pada keadaan tertentu.
NIDDK menjelaskan kadar gula darah puasa 126 mg per dL atau lebih berada pada rentang diabetes. HbA1c 6,5 persen atau lebih juga termasuk rentang diabetes. Pada seseorang yang mempunyai gejala klasik, gula darah plasma sewaktu 200 mg per dL atau lebih dapat digunakan dalam proses diagnosis.
Namun, angka tersebut bukan panduan untuk orang tua mendiagnosis anak sendiri.
Dokter perlu menilai apakah hasil perlu dikonfirmasi, pemeriksaan mana yang paling tepat, serta jenis diabetes yang dialami anak.
Tes gula darah saja juga belum tentu dapat membedakan tipe 1 dari tipe 2. Pada kasus tertentu, dokter dapat melakukan pemeriksaan autoantibodi untuk membantu menentukan apakah seorang pasien mengalami diabetes tipe 1.
Alat Cek Gula Darah Rumahan Bukan Pengganti Diagnosis
Sebagian keluarga mempunyai glukometer karena terdapat anggota keluarga lain yang hidup dengan diabetes.
Alat tersebut dapat memberikan informasi mengenai kadar gula pada saat pemeriksaan, tetapi hasilnya tidak sebaiknya dijadikan dasar tunggal untuk menetapkan diagnosis pada anak.
NIDDK menegaskan diagnosis diabetes membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang sesuai. Pengukuran menggunakan meter gula darah bukan pengganti pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis.
Apabila hasil pemeriksaan rumahan terlihat sangat tinggi dan anak menunjukkan gejala diabetes, langkah yang lebih aman adalah membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Terlebih bila sudah terdapat muntah, napas cepat, nyeri perut, lemah berat, atau gangguan kesadaran.
Jangan Menghentikan Karbohidrat Sendiri karena Takut Gula
Kekhawatiran terhadap diabetes terkadang membuat orang tua langsung menghilangkan nasi, buah, susu, atau seluruh sumber karbohidrat dari makanan anak.
Langkah ekstrem seperti ini tidak diperlukan sebelum diagnosis dan dapat mengganggu kebutuhan gizi anak.
Anak masih berada dalam periode pertumbuhan sehingga membutuhkan energi, protein, lemak, vitamin, mineral, dan karbohidrat dalam jumlah yang disesuaikan dengan usia serta kondisi kesehatannya.
Bila diabetes sudah terdiagnosis, pengaturan makan dilakukan sebagai bagian dari keseluruhan terapi.
Pada tipe 1, insulin tetap menjadi terapi utama. IDAI menegaskan anak dengan tipe 1 sangat bergantung pada insulin, disertai pengaturan makanan dan aktivitas yang sesuai.
Orang tua juga tidak sebaiknya menghentikan insulin, mengubah dosis, atau mengganti terapi berdasarkan informasi dari media sosial tanpa berkonsultasi dengan tim medis.
Diabetes Tipe 1 Bukan Kesalahan Anak
Stigma dapat menjadi beban tambahan bagi anak yang baru mendapat diagnosis.
Ucapan seperti terlalu banyak makan gula, kurang olahraga, atau tidak menjaga makanan bisa membuat anak merasa penyakit tersebut merupakan kesalahannya.
Padahal, tipe 1 merupakan penyakit autoimun.
WHO menyatakan tipe 1 saat ini belum dapat dicegah.
Anak tetap membutuhkan dukungan agar dapat menjalani sekolah, bermain, berolahraga, dan berinteraksi dengan teman sebaya.
Pengelolaan diabetes memang membutuhkan rutinitas baru, termasuk pemberian insulin, pemantauan glukosa, pengaturan makanan, dan mengenali perubahan kadar gula.
Tetapi diagnosis bukan alasan untuk membuat anak merasa berbeda atau dilarang mengikuti seluruh kegiatan yang disukainya.
“Menurut penulis, keluarga perlu mengganti pertanyaan siapa yang salah dengan pertanyaan apa yang dibutuhkan anak sekarang. Sikap tersebut jauh lebih membantu ketika keluarga harus belajar menjalani terapi dalam jangka panjang.”
Tipe 2 Memerlukan Perubahan Bersama Keluarga
Pada anak yang berisiko mengalami tipe 2, perubahan kebiasaan lebih baik dilakukan bersama seluruh keluarga daripada hanya menargetkan satu anak.
CDC menyarankan pola makan sehat dan aktivitas fisik untuk membantu mencegah atau menunda tipe 2 pada anak yang berisiko. Anak dengan berat badan berlebih masih tumbuh sehingga pengelolaan berat badan sebaiknya dibicarakan dengan dokter, bukan melalui diet ketat tanpa pengawasan.
Orang tua dapat mulai dari kebiasaan rumah.
Minuman tinggi gula dapat dikurangi, air putih dibuat lebih mudah tersedia, sayur dan buah diberikan secara teratur, waktu duduk terlalu lama dikurangi, serta kegiatan fisik dilakukan bersama.
Perubahan tidak perlu dibuat sebagai hukuman.
Berjalan kaki, bersepeda, berenang, bermain bola, atau aktivitas lain yang disukai anak dapat menjadi pilihan yang lebih mudah dipertahankan daripada memaksakan olahraga yang tidak disukai.
Guru Perlu Mengetahui Kondisi Anak yang Sudah Terdiagnosis
Setelah diagnosis ditegakkan, sebagian besar hari anak tetap berlangsung di sekolah.
Guru dan petugas sekolah perlu mengetahui kebutuhan anak sesuai arahan keluarga dan tim medis.
Anak mungkin perlu memeriksa glukosa, menggunakan insulin, makan pada waktu tertentu, minum lebih sering, atau pergi ke toilet tanpa harus menunggu terlalu lama.
Sekolah juga perlu mengenali tanda kadar gula terlalu rendah maupun terlalu tinggi sesuai rencana perawatan yang diberikan tenaga kesehatan.
Dukungan seperti ini membantu anak tetap mengikuti kegiatan belajar tanpa merasa penyakitnya harus disembunyikan.
Keluarga dapat menyampaikan informasi yang memang diperlukan sambil tetap menjaga privasi anak.
Perhatikan Pola Gejala, Bukan Satu Keluhan Saja
Haus pada satu siang yang panas belum tentu menunjukkan diabetes. Begitu pula rasa lapar setelah olahraga atau mengompol satu kali.
Yang perlu menjadi perhatian adalah pola.
Orang tua sebaiknya lebih waspada ketika beberapa perubahan terjadi bersama, seperti anak minum jauh lebih banyak, sering kencing, bangun malam untuk minum atau ke toilet, kembali mengompol, makan banyak tetapi semakin kurus, dan mudah lelah.
IDAI pada April 2026 kembali menekankan pentingnya mengenali rangkaian gejala tersebut sebelum anak datang dalam kondisi gawat.
Catatan sederhana dapat membantu ketika berkonsultasi dengan dokter. Orang tua dapat mengingat kapan keluhan mulai muncul, seberapa sering anak buang air kecil, apakah berat badannya berubah, serta apakah terdapat muntah, sakit perut, atau perubahan aktivitas.
Pertolongan Tidak Boleh Ditunda saat Kondisi Memburuk
Diabetes pada anak dapat dikelola dengan baik ketika terdeteksi dan mendapatkan terapi yang sesuai. Persoalan menjadi jauh lebih serius ketika tanda awal terlewat sampai anak mengalami kekurangan insulin berat.
Apabila anak hanya menunjukkan haus dan lapar yang lebih sering tanpa tanda kegawatan, keluarga dapat segera menjadwalkan pemeriksaan dengan dokter untuk mencari penyebabnya.
Namun, bila anak mengalami kombinasi haus dan sering kencing disertai muntah berulang, nyeri perut, napas cepat dan dalam, bau napas seperti buah atau aseton, lemas berat, dehidrasi, sulit dibangunkan, atau kesadaran menurun, kondisi tersebut memerlukan pertolongan medis segera. IDAI dan NIDDK memasukkan tanda tersebut dalam gambaran ketoasidosis diabetik yang dapat berkembang menjadi keadaan berbahaya.
Pemeriksaan lebih awal memberi kesempatan kepada dokter mengetahui apakah keluhan anak memang berasal dari diabetes atau kondisi lain. Bagi orang tua, perubahan kecil pada kebiasaan minum, makan, buang air kecil, berat badan, dan energi anak dapat menjadi informasi penting yang membantu penyakit dikenali sebelum kondisi menjadi jauh lebih berat.






