Tetap Menyusui Saat Mastitis Aman, Ini Penjelasan Dokter

Kesehatan55 Views

Tetap Menyusui Saat Mastitis Aman, Ini Penjelasan Dokter Mastitis dapat membuat masa menyusui berubah menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan. Payudara terasa panas, bengkak, kemerahan, dan nyeri ketika disentuh. Sebagian ibu juga mengalami demam, menggigil, tubuh lemas, serta keluhan menyerupai flu. Dalam keadaan seperti ini, pertanyaan yang paling sering muncul ialah apakah bayi masih aman menyusu dari payudara yang sedang meradang.

Dokter dan organisasi kedokteran laktasi pada umumnya menyatakan bahwa ibu tetap dapat menyusui saat mengalami mastitis. ASI dari payudara yang meradang biasanya aman bagi bayi sehat. Melanjutkan menyusui sesuai kebutuhan bayi juga membantu mempertahankan produksi susu dan mencegah penghentian menyusui secara mendadak. Academy of Breastfeeding Medicine bahkan menegaskan bahwa mastitis bakterial bukan alasan untuk membuang ASI.

Meski demikian, melanjutkan menyusui tidak berarti ibu harus memaksa payudara dikosongkan, menyusui lebih sering dari kebutuhan bayi, atau memompa secara berlebihan. Panduan terbaru justru meminta ibu menghindari rangsangan berlebih karena tindakan tersebut dapat meningkatkan produksi susu, memperparah pembengkakan, dan membuat peradangan semakin berat.

Mastitis Tidak Selalu Berarti Infeksi Bakteri

Mastitis merupakan peradangan jaringan payudara yang dapat terjadi dengan atau tanpa infeksi bakteri. Keluhan dapat bermula dari penyempitan saluran akibat pembengkakan jaringan, penumpukan susu di alveoli, produksi ASI berlebihan, penggunaan pompa yang tidak tepat, atau tekanan terus menerus pada payudara.

Pada mastitis inflamasi, ibu dapat mengalami nyeri, bengkak, kemerahan, dan demam tanpa adanya infeksi bakteri yang memerlukan antibiotik. Academy of Breastfeeding Medicine menjelaskan bahwa banyak kasus dapat membaik melalui pengendalian peradangan, istirahat, kompres dingin, obat pereda nyeri yang sesuai, serta pengaturan menyusui secara fisiologis.

Mastitis bakterial dapat berkembang apabila peradangan memburuk atau terjadi pertumbuhan bakteri yang berlebihan. Kondisi ini lebih mungkin membutuhkan antibiotik berdasarkan pemeriksaan dokter. Karena gejalanya dapat terlihat serupa, ibu tidak disarankan menentukan sendiri apakah keluhannya hanya berupa peradangan atau telah menjadi infeksi.

Payudara yang terasa penuh setelah ibu tidur lebih lama juga belum tentu mengalami infeksi. Rasa nyeri dan kemerahan yang muncul dalam waktu beberapa jam dapat berasal dari peregangan alveoli, pembengkakan, dan peradangan lokal. Penilaian dokter diperlukan apabila keluhan menetap, semakin berat, atau disertai kondisi tubuh yang sangat lemah.

ASI dari Payudara yang Mengalami Mastitis Umumnya Aman

Bakteri penyebab mastitis yang paling sering ditemukan tidak membuat ASI otomatis berbahaya bagi bayi sehat. Academy of Breastfeeding Medicine menyatakan bahwa menyusui dan ASI tetap aman pada mastitis, abses, serta selama penggunaan antibiotik yang sesuai untuk ibu menyusui.

American College of Obstetricians and Gynecologists juga menyebut ibu dapat tetap menyusui ketika mengalami mastitis dan sedang mengonsumsi antibiotik. Penghentian menyusui biasanya tidak diperlukan selama obat telah dipilih oleh dokter dengan mempertimbangkan kesehatan ibu dan bayi.

ASI dari payudara yang meradang terkadang terasa sedikit lebih asin karena perubahan kadar natrium. Perubahan rasa dapat membuat sebagian bayi menyusu lebih singkat atau tampak kurang tertarik pada sisi tersebut. Namun, perubahan rasa bukan tanda bahwa ASI telah rusak atau harus dibuang. NHS menegaskan bahwa infeksi payudara tidak membuat ASI berbahaya bagi bayi.

“Menghentikan menyusui hanya karena payudara terasa sakit dapat menambah tekanan bagi ibu. Keputusan terbaik tetap perlu mempertimbangkan kenyamanan, aliran ASI, kondisi bayi, dan hasil pemeriksaan tenaga kesehatan.”

Menyusui Tetap Dilanjutkan Sesuai Kebutuhan Bayi

Ibu dapat menawarkan payudara kepada bayi sesuai pola menyusu yang biasa dilakukan. Bayi tidak perlu dipaksa menyusu lebih sering hanya untuk mengosongkan payudara yang sakit. Sasaran utama bukan membuat payudara benar benar kosong, melainkan menjaga pengeluaran ASI tetap sesuai kebutuhan bayi.

Konsep mengosongkan payudara kini tidak lagi disarankan sebagai perawatan utama mastitis. Payudara terus menghasilkan susu dan tidak pernah benar benar kosong. Semakin banyak susu dikeluarkan, semakin kuat pula sinyal tubuh untuk memproduksi susu baru.

Apabila ibu menyusui lebih banyak dari sisi yang sakit atau memompa sampai terasa kosong, produksi dapat meningkat. Keadaan tersebut dapat memperbesar tekanan di dalam alveoli, menambah pembengkakan, dan membuat aliran susu semakin sulit. Academy of Breastfeeding Medicine mengidentifikasi kebiasaan memompa sampai kosong sebagai salah satu faktor yang dapat mempertahankan lingkaran hiperlaktasi dan mastitis.

Ibu yang harus memompa karena terpisah dari bayi dapat memerah dengan frekuensi dan volume yang menyerupai jumlah minum bayi. Jangan menambahkan sesi pompa hanya untuk membuat payudara terasa kosong atau mengumpulkan stok dalam jumlah besar ketika peradangan sedang terjadi.

Payudara yang Sangat Bengkak Tidak Perlu Dipaksa

Pada sebagian kasus, pembengkakan di sekitar areola begitu berat sehingga bayi tidak mampu melekat dan ASI tidak dapat keluar. Memaksa bayi menyusu atau terus menggunakan pompa pada keadaan ini dapat menambah nyeri dan mencederai jaringan.

Ibu dapat menyusui dari payudara yang lebih nyaman terlebih dahulu. Sisi yang sangat bengkak dapat diistirahatkan sementara sampai peradangan mulai mereda. ASI boleh dikeluarkan sedikit menggunakan tangan apabila diperlukan untuk mengurangi tekanan, bukan untuk menghabiskan seluruh isinya.

Setelah pembengkakan berkurang dan aliran kembali muncul, bayi dapat ditawarkan menyusu dari sisi tersebut. Penurunan produksi sementara pada payudara yang sakit dapat terjadi, tetapi pasokan biasanya dapat ditingkatkan kembali setelah ibu pulih.

Posisi menyusui boleh disesuaikan berdasarkan kenyamanan. Ibu dapat mencoba posisi berbaring miring, setengah berbaring, atau posisi lain yang tidak menekan bagian payudara yang sakit. Posisi menggantungkan payudara di atas bayi tidak didukung bukti dan dapat menempatkan bayi pada posisi yang kurang aman.

Memompa dan Membuang ASI Biasanya Tidak Diperlukan

Istilah pompa lalu buang masih sering diberikan kepada ibu yang memakai antibiotik. Saran tersebut tidak tepat untuk sebagian besar obat yang lazim digunakan dalam perawatan mastitis. Banyak antibiotik masuk ke dalam ASI dalam kadar rendah dan dapat digunakan selama menyusui berdasarkan penilaian dokter.

Cephalexin, misalnya, menghasilkan kadar rendah di dalam ASI dan umumnya tidak diperkirakan menimbulkan gangguan serius pada bayi. Amoxicillin serta amoxicillin dengan asam clavulanat juga dinilai dapat digunakan oleh ibu menyusui. Bayi tetap dapat dipantau terhadap diare, ruam, atau kandidiasis mulut selama ibu menjalani pengobatan.

Clindamycin juga tidak otomatis mengharuskan penghentian menyusui, meskipun dokter dapat memilih obat lain berdasarkan jenis bakteri dan keadaan pasien. Bayi perlu diamati terhadap perubahan saluran pencernaan, ruam popok akibat jamur, atau keluhan lain yang muncul setelah pengobatan dimulai.

Ibu tidak boleh menggunakan antibiotik milik orang lain, sisa resep lama, atau membeli obat tanpa pemeriksaan. Pemilihan antibiotik dipengaruhi riwayat alergi, pola kuman setempat, kemungkinan bakteri yang kebal, kondisi ginjal dan hati, serta usia dan kesehatan bayi.

Antibiotik Tidak Dibutuhkan pada Semua Mastitis

Keluhan yang baru muncul dan masih tergolong mastitis inflamasi sering dapat ditangani tanpa antibiotik. Academy of Breastfeeding Medicine menyatakan bahwa sebagian besar kasus membaik melalui perawatan peradangan dan dukungan menyusui.

Dokter dapat mempertimbangkan antibiotik apabila gejala mengarah pada mastitis bakterial, kemerahan terus meluas, demam menetap, kondisi ibu memburuk, atau keluhan tidak membaik setelah perawatan awal. Pemeriksaan juga diperlukan lebih cepat bagi ibu yang memiliki gangguan imunitas atau riwayat infeksi berat.

Apabila keluhan tidak membaik setelah sekitar 48 jam penggunaan antibiotik lini awal, dokter dapat meminta kultur ASI. Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi bakteri yang kebal, termasuk MRSA, serta menentukan antibiotik yang lebih sesuai. Kultur juga patut dipertimbangkan pada mastitis berulang.

Antibiotik harus diminum sesuai dosis dan lama pengobatan yang ditetapkan. Menghentikannya lebih awal hanya karena demam sudah turun dapat membuat infeksi tidak tertangani secara menyeluruh.

Kompres Dingin Lebih Dianjurkan untuk Pembengkakan

Perawatan mastitis saat ini menempatkan kompres dingin sebagai salah satu cara utama mengurangi nyeri dan pembengkakan. Es atau kantong dingin dapat dibungkus kain bersih, kemudian ditempelkan pada payudara selama waktu singkat sesuai kenyamanan.

Kompres panas memang terasa nyaman bagi sebagian ibu, tetapi panas melebarkan pembuluh darah dan dapat membuat pembengkakan semakin berat. Academy of Breastfeeding Medicine mencatat bahwa mandi hangat dan obat penurun demam saja tidak memperbaiki hasil perawatan mastitis dalam sebuah uji klinis.

Ibuprofen dapat membantu menurunkan nyeri sekaligus peradangan, sedangkan paracetamol dapat digunakan untuk meredakan nyeri dan demam. Dosis harus mengikuti anjuran dokter, apoteker, atau informasi pada kemasan, terutama bagi ibu yang mempunyai penyakit lambung, ginjal, hati, alergi obat, atau sedang mengonsumsi obat lain.

Bra yang menopang payudara dengan baik juga dapat membantu kenyamanan. Bra tidak boleh terlalu ketat karena tekanan terus menerus pada satu bagian payudara dapat menambah keluhan.

Pijat Keras Justru Dapat Memperburuk Peradangan

Benjolan pada mastitis sering dianggap sebagai gumpalan susu yang harus dihancurkan. Pemahaman tersebut membuat sebagian ibu menekan payudara sekuat tenaga, menggunakan alat pijat bergetar, sisir, sikat gigi elektrik, atau teknik menguleni jaringan.

Panduan terbaru meminta ibu menghindari pijat dalam. Tekanan kuat dapat menambah pembengkakan, merusak pembuluh darah kecil, mencederai jaringan, dan meningkatkan risiko terbentuknya flegmon atau abses.

Sentuhan yang diperbolehkan berupa sapuan sangat ringan pada kulit menuju ketiak dan bagian atas dada untuk membantu aliran cairan limfatik. Gerakan ini berbeda dari menekan benjolan ke arah puting.

Bleb atau titik putih pada puting juga tidak boleh dipecahkan menggunakan jarum. Tindakan tersebut dapat menciptakan luka, menambah peradangan, dan membuka jalan bagi infeksi. Pemeriksaan dokter diperlukan apabila titik putih sangat nyeri atau tidak kunjung membaik.

“Mastitis bukan keadaan yang harus dilawan dengan pompa paling kuat dan pijatan paling keras. Jaringan yang meradang justru membutuhkan perlakuan lembut serta waktu untuk pulih.”

Mastitis Tidak Menular Melalui Kontak Biasa

Mastitis bukan penyakit menular yang membuat ibu harus dijauhkan dari bayi. Peralatan rumah tidak perlu disterilkan berulang kali hanya karena ibu mengalami mastitis. Bagian pompa tetap harus dicuci sesuai petunjuk setelah digunakan, tetapi sterilisasi berlebihan tidak terbukti mencegah mastitis.

Puting juga tidak perlu digosok dengan sabun kuat, alkohol, atau cairan antiseptik setiap kali menyusui. Pembersihan berlebihan dapat mengeringkan dan merusak lapisan kulit, lalu memperparah nyeri.

Kebersihan tangan tetap penting, terutama sebelum menyentuh payudara yang memiliki luka, mengganti perban, memerah ASI, atau merawat tempat pemasangan selang abses. Pompa harus dirakit dan dibersihkan mengikuti petunjuk produsen.

Menyusui Masih Dapat Dilanjutkan Saat Ada Abses

Abses merupakan kumpulan nanah di dalam jaringan payudara dan dapat berkembang sebagai komplikasi mastitis. Gejalanya dapat berupa benjolan yang menetap, nyeri berdenyut, pembengkakan yang semakin jelas, demam, atau keluhan yang tidak membaik meski telah menggunakan antibiotik.

Abses memerlukan pemeriksaan dokter dan biasanya harus dikeluarkan melalui aspirasi jarum atau pemasangan selang kecil. Antibiotik dapat diberikan berdasarkan kondisi pasien dan hasil kultur. Academy of Breastfeeding Medicine menyatakan ibu masih dapat menyusui dari payudara dengan abses, termasuk sebelum proses pengeluaran cairan dilakukan.

Apabila terdapat luka terbuka, nanah, atau selang pada payudara, mulut bayi dan bagian pompa tidak boleh menyentuh jaringan yang terinfeksi. Luka harus ditutup menggunakan perban yang bersih dan kering. CDC menyatakan menyusui dapat diteruskan selama kontak dengan cairan bernanah atau luka terbuka dapat dicegah.

Bila posisi luka membuat kontak tidak dapat dihindari, ibu mungkin perlu memerah dari sisi tersebut dan membuang ASI sementara sampai telah menjalani antibiotik selama 24 sampai 48 jam serta dinilai tidak lagi menularkan bakteri melalui jaringan yang terinfeksi. ASI dari payudara yang tidak terkena tetap dapat diberikan.

Bayi Prematur Memerlukan Pertimbangan Lebih Ketat

Panduan umum mengenai keamanan menyusui saat mastitis terutama berlaku bagi bayi cukup bulan yang sehat. Bayi prematur, bayi dengan berat lahir rendah, serta bayi yang dirawat di unit intensif neonatal lebih rentan terhadap infeksi.

Apabila ibu mengalami mastitis akibat MRSA dan bayi berada di unit intensif, rumah sakit dapat menerapkan tindakan tambahan. Tim medis dapat meminta penggunaan sarung tangan dan pakaian pelindung, pemisahan ruang, atau pembatasan sementara terhadap ASI dari sisi yang terinfeksi.

Keputusan untuk kelompok bayi tersebut harus dibuat bersama dokter anak, dokter ibu, dan tim laktasi rumah sakit. Ibu tidak sebaiknya menerapkan aturan untuk bayi cukup bulan secara mandiri kepada bayi yang sedang menjalani perawatan khusus.

Menghentikan Menyusui Mendadak Dapat Menambah Keluhan

Saat nyeri sangat berat, keinginan berhenti menyusui dapat dimengerti. Namun, penghentian secara tiba tiba membuat susu tetap diproduksi tanpa pengeluaran yang sesuai. Payudara dapat semakin penuh dan peradangan menjadi lebih sulit dikendalikan.

Ibu yang ingin menyapih tetap dapat melakukannya, tetapi pengurangan sesi sebaiknya berlangsung bertahap. Satu sesi dikurangi terlebih dahulu, kemudian tubuh diberi waktu menyesuaikan produksi sebelum mengurangi sesi berikutnya. Penghentian bertahap membantu mencegah payudara terlalu penuh dan menurunkan risiko mastitis baru.

Apabila ibu tidak sanggup menyusui langsung karena nyeri, pemerahan tangan secukupnya dapat digunakan untuk menjaga kenyamanan. Pompa juga dapat digunakan bila memang diperlukan, tetapi tekanan isap dan ukuran corong harus sesuai agar tidak mencederai puting dan areola.

Mastitis Bisa Menurunkan Produksi ASI Sementara

Produksi ASI dari sisi yang sakit dapat berkurang akibat pembengkakan, nyeri, pelepasan ASI yang terganggu, serta perubahan pola menyusu. Penurunan ini umumnya bersifat sementara dan dapat membaik setelah peradangan mereda.

Ibu tidak perlu langsung menambah sesi pompa secara agresif untuk mengejar produksi. Rangsangan berlebihan saat jaringan masih bengkak dapat memperpanjang keluhan.

Perhatikan tanda kecukupan asupan bayi melalui pola menelan, jumlah buang air kecil, keadaan setelah menyusu, serta kenaikan berat badan. Konsultasi dengan dokter anak atau konselor laktasi diperlukan bila bayi tampak terus lapar, sangat mengantuk, jarang buang air kecil, atau berat badannya tidak bertambah sesuai pemantauan.

Setelah ibu pulih, frekuensi menyusui normal biasanya cukup membantu produksi kembali menyesuaikan kebutuhan bayi.

Pemeriksaan Diperlukan Bila Tidak Membaik dalam 24 Jam

Ibu disarankan menghubungi tenaga kesehatan apabila keluhan tidak membaik dalam waktu sekitar 24 jam setelah perawatan awal, atau lebih cepat bila kondisi memburuk. Academy of Breastfeeding Medicine menempatkan batas ini sebagai waktu penting untuk mengevaluasi kembali penyebab dan kebutuhan pengobatan.

Pemeriksaan segera diperlukan bila demam tinggi menetap, kemerahan meluas, muncul garis merah pada kulit, nyeri semakin berat, ibu sangat lemas, muntah, pusing berat, detak jantung cepat, atau sulit menjalankan kegiatan dasar.

Benjolan yang tetap terasa setelah peradangan mereda juga perlu dinilai. Dokter dapat melakukan ultrasonografi untuk mencari abses, flegmon, galaktokel, atau kelainan payudara lain.

Mastitis yang terjadi berulang pada lokasi yang sama tidak boleh terus menerus diobati sendiri. Kultur ASI, pemeriksaan teknik menyusui, evaluasi penggunaan pompa, dan pencitraan dapat diperlukan untuk memastikan tidak ada bakteri kebal atau kelainan lain yang tersembunyi.