Rujak Uleg 2026 Surabaya Pecah, Dari Mesir sampai Korea

Makanan166 Views

Rujak Uleg 2026 Surabaya Pecah, Dari Mesir sampai Korea Festival Rujak Uleg 2026 kembali membuat Surabaya ramai. Ajang kuliner tahunan ini digelar di Surabaya Expo Center pada Sabtu, 9 Mei 2026, sebagai bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Surabaya ke 733. Tahun ini, acara mengusung tema Rujak Phoria dengan sentuhan pesta sepak bola dunia, kostum kreatif, rujak cingur khas Surabaya, dan tampilan peserta yang membawa gaya budaya berbagai negara, mulai dari Mesir, Jepang, sampai Korea. Pemerintah Kota Surabaya mencatat festival ini melibatkan 136 kelompok peserta dan 132 peserta lomba fashion tematik.

Rujak Uleg Jadi Pesta Kuliner yang Selalu Ditunggu

Festival Rujak Uleg bukan acara kuliner biasa bagi warga Surabaya. Setiap Mei, acara ini hadir sebagai ruang pertemuan warga, pelaku usaha, komunitas, sekolah, hotel, kampus, sentra wisata kuliner, dan wisatawan yang ingin melihat langsung cara Surabaya merawat salah satu makanan khasnya.

Pada 2026, festival tersebut dibuat lebih meriah dengan konsep Rujak Phoria. Tema ini mengambil suasana pesta sepak bola dunia, lalu dipadukan dengan tradisi menguleg rujak cingur, kostum tematik, parade peserta, pertunjukan seni, dan pembagian rujak gratis. Pemkot Surabaya menyebut acara ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Surabaya ke 733 dan kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara 2026.

Surabaya Expo Center Dipadati Warga

Surabaya Expo Center menjadi pusat keramaian sejak siang hingga malam. Warga datang bersama keluarga, teman, dan komunitas. Sebagian ingin mencicipi rujak cingur, sebagian lain tertarik melihat kostum peserta yang tampil penuh warna.

Suara Surabaya melaporkan sebanyak 136 peserta ambil bagian dalam festival yang digelar Pemerintah Kota Surabaya tersebut. Ajang ini berlangsung meriah dengan balutan tema sepak bola dunia, mempertemukan unsur olahraga internasional dengan kekayaan kuliner khas Kota Pahlawan.

Kehadiran warga dari luar Surabaya juga terasa. Pemkot Surabaya menyebut ribuan warga memadati lokasi acara, termasuk pengunjung dari berbagai daerah di Jawa Timur. Hal ini membuat festival bukan hanya ramai oleh warga lokal, tetapi juga menjadi magnet wisata kuliner bagi daerah sekitar.

Rujak Mesir Mencuri Perhatian Pengunjung

Salah satu tampilan yang menarik perhatian adalah peserta bertema Mesir kuno. Booth SMPN 43 Surabaya hadir dengan dekorasi khas negeri piramida. Simbol ular kobra, patung Anubis, dan sentuhan warna yang identik dengan peradaban Mesir membuat area tersebut ramai dilihat pengunjung.

Menurut laporan Suara Surabaya, Aris, peserta dari SMPN 43 Surabaya, mengatakan konsep Mesir dipilih karena peradaban tersebut memiliki sejarah panjang. Timnya menyiapkan konsep piramida, ular kobra, dan patung Anubis sekitar satu minggu sebelum festival berlangsung. Meski dekorasinya mengambil gaya Mesir, sajian yang disajikan tetap mempertahankan rujak uleg dengan buah segar dan cingur khas Surabaya.

Tradisi Rujak Tetap Jadi Pusat Sajian

Kostum dan dekorasi boleh membawa warna luar negeri, tetapi rujak cingur tetap menjadi inti acara. Itulah kekuatan Festival Rujak Uleg. Peserta bebas berkreasi dalam tampilan, tetapi rasa Surabaya tetap dijaga melalui bahan utama seperti petis, sayur, buah, lontong, tempe, tahu, dan cingur.

Booth bertema Mesir menunjukkan bahwa festival ini memberi ruang bagi peserta untuk bermain dengan visual tanpa meninggalkan kuliner asalnya. Rujak uleg tetap dibuat langsung di tempat. Cobek, ulekan, petis, dan bahan segar menjadi bagian yang tidak bisa digantikan.

Cara ini membuat festival terasa hidup. Anak muda bisa masuk lewat kostum dan dekorasi, sementara orang tua tetap menemukan rasa kuliner yang dikenal sejak lama. Perpaduan tersebut membuat rujak cingur tidak hanya hadir di piring, tetapi juga menjadi bagian dari panggung budaya kota.

Gaya Korea Ikut Ramaikan Rujak Uleg

Selain Mesir dan Jepang, nuansa Korea juga menjadi bagian dari warna Festival Rujak Uleg 2026. Kehadiran konsep Korea ramai dibicarakan dalam liputan media sosial Kompas yang menyebut Festival Rujak Uleg 2026 di Surabaya diramaikan berbagai kuliner dan tampilan bertema negara lain, termasuk rujak uleg Mesir sampai Korea.

Gaya Korea dalam acara seperti ini mudah menarik perhatian karena budaya populer Korea sangat dekat dengan anak muda. Kostum, warna, tata panggung kecil, riasan, dan yel yel dapat dikembangkan menjadi tampilan yang lebih segar. Ketika tema tersebut dibawa ke festival rujak, hasilnya menjadi sajian visual yang tidak biasa.

Budaya Pop Bertemu Kuliner Lokal

Kehadiran gaya Korea dalam Festival Rujak Uleg menunjukkan cara baru memperkenalkan kuliner tradisional. Banyak anak muda mungkin awalnya tertarik karena kostum, musik, dan tampilannya. Setelah masuk ke arena festival, mereka tetap bertemu dengan rujak cingur sebagai hidangan utama.

Pertemuan seperti ini penting bagi kuliner daerah. Makanan tradisional akan lebih mudah dekat dengan generasi muda jika disajikan melalui acara yang menarik secara visual. Rujak cingur tidak hanya diletakkan sebagai makanan lama, tetapi hadir dalam suasana yang ramai, segar, dan terbuka bagi banyak gaya.

Surabaya selama ini dikenal berani mengemas agenda publik dengan cara yang merakyat. Festival Rujak Uleg menjadi contoh bahwa makanan khas bisa tampil sejajar dengan tren visual anak muda tanpa kehilangan ciri asli.

Jepang Juga Hadir Lewat Tim Peserta Kreatif

Nuansa Jepang turut menghiasi Festival Rujak Uleg 2026. Salah satu peserta, tim Libby Bakery, tampil dengan konsep tim nasional Jepang. Dari kostum sampai dekorasi, peserta membawa unsur Negeri Sakura dalam tampilan lomba.

Onny, peserta dari tim Libby Bakery, mengatakan kepada Suara Surabaya bahwa konsep Jepang dipilih karena budaya negara tersebut menarik. Timnya memerlukan waktu sekitar satu minggu untuk mempersiapkan kostum, dekorasi, serta yel yel pendukung. Mereka juga menghadirkan inovasi rujak cingur dengan tambahan kacang mete, berisi tempe, lontong, kangkung, kacang panjang, mangga, bengkuang, dan timun.

Kacang Mete Jadi Sentuhan Rasa Berbeda

Tambahan kacang mete pada rujak cingur menunjukkan bahwa peserta tidak hanya bersaing dalam tampilan. Mereka juga mencoba memberi sentuhan rasa yang berbeda. Kacang mete dapat memberi tekstur lebih gurih dan rasa yang lebih kaya ketika bertemu petis serta bahan rujak.

Inovasi seperti ini membuat rujak cingur tetap terasa dekat dengan perkembangan selera masyarakat. Bahan dasarnya tidak hilang, tetapi ada ruang kecil untuk variasi. Selama rasa utama tetap dijaga, tambahan seperti kacang mete bisa memberi pengalaman baru bagi pengunjung.

Festival seperti ini menjadi tempat yang tepat untuk mencoba kreasi. Peserta dapat mengolah rujak dengan karakter masing masing, sementara pengunjung bisa melihat bahwa kuliner tradisional tidak selalu harus tampil sama dari tahun ke tahun.

Rujak Cingur Tetap Jadi Jantung Festival

Di balik kostum Mesir, gaya Korea, nuansa Jepang, dan pesta sepak bola dunia, rujak cingur tetap menjadi pusat perhatian. Makanan khas Surabaya ini memiliki karakter kuat karena memakai petis sebagai bumbu utama. Rasa gurih, manis, pedas, dan segar berpadu dalam satu piring.

Pemkot Surabaya menyebut Festival Rujak Uleg menjadi sarana penting untuk mempromosikan rujak cingur sebagai kuliner khas Surabaya yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda. Pemerintah kota ingin memperkenalkan kekayaan kuliner tersebut kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan luar daerah dan mancanegara.

Petis Membuat Rujak Cingur Berbeda

Petis menjadi bagian paling khas dari rujak cingur Surabaya. Tanpa petis, rasa rujak cingur tidak akan sama. Bumbu ini memberi warna gelap, aroma tajam, dan rasa gurih yang menjadi ciri utama.

Rujak cingur juga menarik karena memadukan bahan matang dan bahan segar. Lontong, tahu, tempe, sayur rebus, buah, dan cingur bertemu dalam satu cobek. Semua bahan itu kemudian disiram bumbu yang diuleg langsung. Proses menguleg inilah yang menjadi inti festival.

Di hadapan pengunjung, peserta tidak hanya menyajikan makanan jadi. Mereka memperlihatkan proses. Bunyi ulekan, gerak tangan peserta, aroma petis, dan tumpukan bahan segar menjadi tontonan yang membuat kuliner terasa lebih dekat.

Rujak Phoria Bawa Semangat Piala Dunia

Tema Rujak Phoria menjadi pembeda utama Festival Rujak Uleg 2026. Nuansa sepak bola dunia terlihat pada dekorasi, atribut, kostum, dan lomba fashion bertajuk Sport Fashion, Surabaya World Fashion Carnival. Pemkot Surabaya menyebut tema ini terinspirasi dari suasana Piala Dunia 2026 dan dibuat agar festival lebih dekat dengan generasi muda.

Sepak bola dipilih karena memiliki daya tarik luas. Hampir semua kelompok masyarakat mengenalnya. Dengan memasukkan unsur sepak bola, festival menjadi lebih mudah diterima oleh berbagai usia, mulai dari anak sekolah, keluarga muda, komunitas olahraga, sampai warga yang sekadar ingin menikmati keramaian.

Kostum Peserta Jadi Daya Tarik Besar

Lomba fashion tematik membuat festival semakin meriah. Peserta tidak hanya membawa cobek dan bahan rujak, tetapi juga datang dengan pakaian yang sesuai tema. Ada yang tampil dengan warna negara tertentu, ada yang membawa pernak pernik bola, ada pula yang menyatukan unsur budaya luar negeri dengan gaya khas Surabaya.

Pemkot Surabaya sebelumnya menyebut festival 2026 melibatkan 132 peserta lomba fashion tematik. Jumlah itu membuat panggung festival terasa seperti parade budaya dan kreativitas warga.

Kostum peserta menjadi alasan banyak pengunjung mengangkat ponsel untuk mengambil foto. Dalam acara seperti ini, visual memiliki peran besar. Foto dan video yang tersebar di media sosial dapat membuat festival lebih dikenal oleh warga luar kota.

Wali Kota Surabaya Sebut Festival Jadi Pesta Rakyat

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi hadir dalam festival dan ikut merasakan antusiasme warga. Ia menyebut acara itu menjadi pesta rakyat karena diikuti banyak kelompok, mulai dari pengurus hotel, pengurus RW, pelaku sentra wisata kuliner, sampai perguruan tinggi.

Pernyataan itu menggambarkan luasnya keterlibatan warga. Festival Rujak Uleg tidak hanya digarap oleh pemerintah, tetapi dihidupkan oleh banyak unsur kota. Setiap kelompok membawa cara tampil masing masing. Ada yang menonjolkan kostum, ada yang kuat pada dekorasi, ada pula yang serius mengolah rasa rujak.

Gotong Royong Terlihat di Arena Festival

Rujak cingur adalah makanan yang cocok menjadi simbol kebersamaan. Bahan yang berbeda dicampur dalam satu cobek, lalu diuleg hingga menjadi hidangan yang utuh. Di festival, cara kerja itu terlihat dalam skala lebih besar. Banyak kelompok datang dengan latar berbeda, tetapi berkumpul untuk merayakan kuliner yang sama.

Kehadiran RW, hotel, kampus, sekolah, pelaku SWK, komunitas, dan warga umum membuat acara terasa terbuka. Tidak ada jarak kaku antara peserta dan penonton. Pengunjung bisa mendekat ke booth, melihat proses, bertanya, mengambil foto, dan ikut merasakan suasana.

Kekuatan acara seperti ini ada pada suasana warga yang cair. Festival bukan hanya panggung resmi, melainkan ruang sosial tempat orang bertemu, makan, tertawa, dan mengenang rasa khas kota.

Masuk Karisma Event Nusantara Lagi

Festival Rujak Uleg kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara 2026. Pemkot Surabaya menyebut acara ini telah menjadi salah satu agenda unggulan pariwisata nasional dan pada 2026 kembali mendapat tempat dalam daftar tersebut.

Masuknya Festival Rujak Uleg ke agenda nasional memberi nilai lebih bagi Surabaya. Acara ini tidak hanya dinikmati warga kota, tetapi juga dikenalkan lebih luas kepada wisatawan. Bagi pelaku kuliner, UMKM, pengelola hotel, transportasi, dan sektor jasa lain, keramaian festival memberi peluang ekonomi yang nyata.

Surabaya Vaganza Juga Masuk Daftar Nasional

Tahun 2026 terasa istimewa karena Surabaya tidak hanya membawa Festival Rujak Uleg ke daftar Karisma Event Nusantara. Pemkot Surabaya juga menyebut Surabaya Vaganza masuk dalam 125 event terbaik nasional. Hal ini membuat Surabaya memiliki dua agenda unggulan dalam kalender pariwisata nasional tahun ini.

Kepala Bidang Promosi dan Kemitraan Kementerian Pariwisata RI, Eni Komiarti, menyampaikan apresiasi karena Festival Rujak Uleg kembali menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara 2026 untuk ketiga kalinya. Ia juga menilai kehadiran festival budaya membuka peluang bagi UMKM, pelaku ekonomi kreatif, komunitas, dan masyarakat.

Bagi Surabaya, pengakuan ini memperkuat posisi kota sebagai tujuan wisata kuliner dan budaya. Kota besar tidak harus hanya dikenal lewat pusat belanja atau gedung tinggi. Rasa makanan, tradisi warga, dan festival tahunan juga bisa menjadi alasan orang datang.

Pengunjung Terpikat oleh Keramaian dan Kreativitas

Antusiasme pengunjung terlihat jelas sepanjang festival. Ada warga Surabaya yang baru pertama kali datang, ada pula pengunjung dari luar kota yang ingin melihat langsung kemeriahan rujak uleg. Suara Surabaya mencatat Na’ilah dari Gresik mengaku antusias karena baru pertama kali menyaksikan festival itu. Nareswari, warga Surabaya, juga terkesan melihat besarnya keramaian dan banyaknya peserta.

Cerita pengunjung seperti ini menunjukkan bahwa Festival Rujak Uleg masih punya daya tarik kuat. Meski digelar setiap tahun, acara ini tetap bisa memberi pengalaman baru karena temanya berubah dan kreativitas pesertanya terus berkembang.

Generasi Muda Punya Alasan untuk Datang

Kekuatan festival 2026 terletak pada kemampuan menggabungkan kuliner tradisional dengan gaya yang dekat dengan anak muda. Tema sepak bola dunia, gaya Korea, dekorasi Mesir, konsep Jepang, dan fashion tematik membuat festival terasa lebih hidup.

Anak muda yang mungkin jarang membicarakan rujak cingur bisa tertarik karena visualnya. Mereka datang untuk melihat kostum, mengambil foto, lalu mencicipi rujak. Dari sana, kuliner khas Surabaya mendapat tempat baru di tengah percakapan generasi muda.

Cara ini membuat pelestarian kuliner tidak terasa seperti pelajaran formal. Rujak cingur hadir dalam suasana ramai, penuh warna, dan menyenangkan. Pengunjung belajar mengenal makanan khas melalui rasa, aroma, dan pengalaman langsung.

Rujak Uleg Sebagai Wajah Kuliner Surabaya

Surabaya memiliki banyak kuliner kuat, mulai dari rawon, lontong balap, tahu tek, semanggi, sampai rujak cingur. Di antara deretan itu, rujak cingur punya ciri yang sangat khas karena memakai cingur dan petis. Festival Rujak Uleg menjadikan makanan ini sebagai bintang utama.

Acara seperti ini membantu mengangkat rujak cingur dari meja makan harian ke panggung budaya kota. Ketika pemerintah, warga, pelaku usaha, sekolah, dan komunitas bersama sama mengangkat rujak cingur, makanan tersebut tidak hanya bertahan sebagai menu, tetapi juga hadir sebagai identitas kuliner Surabaya.

Dari Cobek Raksasa ke Booth Kreatif

Salah satu daya tarik Festival Rujak Uleg adalah tradisi menguleg rujak di cobek besar. Kegiatan ini menjadi penanda kuat bahwa festival tidak sekadar menjual makanan. Ada aksi bersama yang memperlihatkan cara rujak dibuat.

Di samping cobek besar, booth peserta menjadi arena kreativitas. Setiap kelompok berusaha tampil berbeda. Ada yang membawa gaya Mesir, Jepang, Korea, sepak bola, sampai busana tematik yang dirancang khusus. Semua itu membuat festival menjadi ruang adu gagasan visual sekaligus adu rasa.

Rujak cingur akhirnya tampil dalam bentuk yang lebih luas. Ia tidak hanya disantap, tetapi juga dilihat, difoto, dibicarakan, dan dirayakan. Itulah alasan Festival Rujak Uleg tetap punya tempat khusus dalam kalender acara Surabaya.

UMKM dan Pelaku Kuliner Ikut Mendapat Ruang

Festival sebesar ini memberi panggung bagi pelaku usaha kuliner dan UMKM. Mereka dapat memperkenalkan produk, bertemu pengunjung baru, dan ikut merasakan keramaian kota. Saat ribuan orang berkumpul, perputaran belanja juga ikut bergerak di sekitar lokasi acara.

Pemkot Surabaya sebelumnya mencatat Festival Rujak Uleg tahun lalu menarik sekitar 12 ribu pengunjung dengan perputaran ekonomi lebih dari Rp 1,28 miliar, belum termasuk sektor lain seperti transportasi, hotel, dan jasa. Pada 2026, jumlah pengunjung ditargetkan meningkat karena konsep acara dibuat lebih meriah.

Sentra Wisata Kuliner Ikut Terlibat

Pelaku sentra wisata kuliner menjadi bagian penting dalam festival ini. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga ikut memperlihatkan kekuatan kuliner lokal. Keterlibatan pelaku SWK membuat acara lebih dekat dengan kehidupan kuliner sehari hari warga Surabaya.

Festival juga dapat menjadi ruang promosi bagi pedagang kecil. Pengunjung yang datang dari luar kota bisa mengenal nama sentra kuliner, mencoba rasa baru, lalu mencari lokasi kuliner tersebut setelah acara selesai. Dengan cara ini, festival tidak berhenti di arena utama, tetapi membuka jalan bagi kunjungan ke titik kuliner lain di Surabaya.

Bagi pelaku usaha, acara seperti ini memberi kesempatan untuk belajar dari peserta lain. Mereka bisa melihat cara penyajian, cara menghias booth, cara menarik pengunjung, dan cara membawa cerita kuliner agar lebih mudah diterima.

Festival yang Menyatukan Rasa, Kostum, dan Kota

Festival Rujak Uleg 2026 memperlihatkan bagaimana satu hidangan khas bisa menjadi panggung besar bagi banyak unsur. Ada rujak cingur sebagai pusat rasa. Ada Mesir, Korea, dan Jepang sebagai warna visual.

Kombinasi tersebut membuat acara terasa ramai tanpa meninggalkan akar kulinernya. Rujak cingur tetap menjadi alasan utama orang datang. Kostum dan dekorasi menjadi pemanis yang mengundang perhatian. Panggung seni dan lomba fashion membuat acara lebih panjang untuk dinikmati.

Surabaya Merayakan Kuliner dengan Cara Sendiri

Surabaya memiliki karakter kuat sebagai kota yang terbuka, ramai, dan penuh energi warga. Festival Rujak Uleg sejalan dengan karakter itu. Acara ini tidak dibuat terlalu jauh dari masyarakat. Pesertanya berasal dari banyak kelompok, penontonnya beragam, dan hidangannya sangat dekat dengan keseharian warga.

Kehadiran rujak Mesir sampai Korea memberi bukti bahwa kreativitas warga dapat membuat kuliner tradisional tampil lebih segar. Bukan rujaknya yang berubah menjadi asing, melainkan cara merayakannya yang semakin luas. Di tengah cobek, petis, sayur, buah, dan cingur, Surabaya menunjukkan bahwa kuliner lokal bisa berdiri gagah di antara berbagai warna budaya dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *