Inasua dari Teon Nila Serua, Kuliner Maluku yang Kerap Disebut Mirip Sashimi

Makanan194 Views

Inasua dari Teon Nila Serua, Kuliner Maluku yang Kerap Disebut Mirip Sashimi Inasua adalah salah satu kuliner paling khas dari masyarakat Teon Nila Serua di Maluku, dan beberapa pemberitaan terbaru menyebutnya sebagai hidangan yang “mirip sashimi” karena sama sama menampilkan irisan ikan yang disantap tanpa proses goreng atau bakar. Namun, penyebutan itu sebenarnya hanya pintu masuk untuk memahami tampilannya. Inasua bukan sashimi dalam pengertian Jepang, melainkan ikan fermentasi tradisional dengan garam yang tumbuh dari kebutuhan masyarakat pesisir untuk mengawetkan hasil laut saat musim ombak dan angin membuat mereka tidak bisa melaut. Ia telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015.

Di balik tampilannya yang sederhana, inasua memuat cerita panjang tentang laut, perpindahan warga, ketahanan pangan, dan cara orang Maluku membangun rasa dari bahan yang sangat dekat dengan hidup mereka. Di meja makan, inasua bisa tampak ringan, segar, dan menggoda. Tetapi di dalamnya ada pengetahuan turun temurun tentang pemilihan ikan, penggunaan garam, kebersihan pengolahan, serta cara menyimpan makanan agar awet sangat lama. Di titik inilah inasua menjadi lebih dari sekadar lauk, karena ia sekaligus berbicara tentang cara hidup masyarakat Teon Nila Serua.

Bukan sashimi, melainkan ikan fermentasi khas Maluku

Menyebut inasua sebagai kuliner “mirip sashimi” memang membantu orang luar cepat membayangkan tampilannya, tetapi penjelasan yang lebih tepat adalah bahwa inasua merupakan ikan fermentasi asin khas Teon Nila Serua. ANTARA menulis bahwa inasua dibuat dengan melumuri ikan menggunakan garam lalu menyimpannya dalam wadah tertutup. Setelah melalui proses ini, ikan bisa bertahan sangat lama, bahkan disebut dapat dinikmati hingga bertahun tahun bila ditangani dengan benar.

Pembedaan ini penting karena rasa dan cara pembuatannya jelas berbeda dari sashimi. Sashimi menekankan kesegaran ikan mentah yang dipotong dan langsung disajikan. Inasua justru bertumpu pada proses pengawetan dan fermentasi. Karena itu, karakter rasanya juga berbeda. Dalam laporan ANTARA, inasua digambarkan memiliki rasa asin, segar, sedikit manis, dan wangi, terutama saat disantap dengan tambahan air jeruk nipis, kemangi, potongan cabai, dan bawang merah. Nyaris tidak ada jejak rasa mentah yang mengganggu.

Jadi, kemiripan dengan sashimi hanya ada pada kesan visual awal dan cara penyajiannya yang tidak melewati proses goreng atau rebus saat hendak dimakan. Identitas kuliner ini tetap sangat Maluku, sangat pesisir, dan sangat terkait dengan tradisi masyarakat Teon Nila Serua.

Lahir dari kebutuhan hidup di laut dan musim yang keras

Asal usul inasua tidak bisa dipisahkan dari kondisi geografis dan pola hidup masyarakat TNS. ANTARA menulis bahwa nenek moyang Teon Nila Serua dikenal sebagai pelaut ulung. Mereka membutuhkan cara untuk menjaga hasil tangkapan tetap aman dan bisa dimakan dalam waktu lama, terutama saat musim angin dan ombak datang sehingga aktivitas melaut menjadi sulit. Dalam situasi seperti itu, fermentasi dengan garam menjadi jawaban yang sangat masuk akal.

Poin ini membuat inasua terasa sangat penting sebagai pangan tradisional. Ia lahir bukan dari keinginan membuat makanan unik semata, tetapi dari kebutuhan untuk bertahan hidup. Saat laut tidak bisa diakses dengan mudah, masyarakat tetap membutuhkan sumber protein. Dengan mengawetkan ikan, mereka menciptakan cadangan pangan yang dapat diandalkan. Karena itu, inasua sesungguhnya adalah wujud kecerdikan masyarakat pesisir dalam membaca musim dan membangun sistem pangan yang sesuai dengan lingkungannya.

Pandangan ini juga ditegaskan oleh berbagai pihak dalam pemberitaan terbaru. Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah menyebut inasua sebagai bagian dari identitas masyarakat pesisir sekaligus contoh hubungan langsung antara kelestarian laut dan keberlanjutan budaya pangan. Artinya, selama laut terjaga, bahan baku inasua akan tetap ada. Sebaliknya, bila sumber daya laut rusak, kuliner ini ikut terancam.

Teon Nila Serua dan jejak perpindahan yang tidak memutus tradisi

Untuk mengenal inasua secara utuh, penting juga memahami latar Teon Nila Serua. ANTARA mencatat bahwa sejak akhir 1970-an, masyarakat adat di gugus kepulauan Teon Nila Serua direlokasi ke Pulau Seram karena ancaman gunung berapi. Berita lama ANTARA pada 2014 juga menyebut relokasi masyarakat TNS ke wilayah Waipia, Pulau Seram, berlangsung sekitar 1976 karena alasan bencana alam.

Perpindahan ini sangat besar artinya karena banyak tradisi lokal berisiko ikut hilang ketika komunitas dipindahkan dari ruang hidup asalnya. Namun inasua justru menjadi salah satu penanda bahwa identitas TNS tidak putus begitu saja. Dalam laporan ANTARA, warga yang direlokasi masih terus membuat dan menyajikan inasua, bahkan mengirimkannya ke keluarga TNS yang tinggal jauh dari Maluku, termasuk ke Jakarta. Dengan kata lain, inasua menjadi pengikat rasa, ingatan, dan hubungan sosial setelah perpindahan besar itu terjadi.

Di sinilah inasua memiliki bobot yang lebih dalam daripada sekadar kuliner khas. Ia menyimpan memori kolektif sebuah komunitas yang berpindah, tetapi tidak ingin kehilangan jati diri. Makanan ini membantu orang TNS membawa pulau asal mereka ke meja makan baru di tempat relokasi. Dan dalam banyak kebudayaan, justru makanan seperti inilah yang paling lama bertahan saat ruang hidup berubah.

Cara membuatnya tidak boleh sembarangan

Salah satu hal yang membuat inasua menarik adalah proses pembuatannya terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya membutuhkan ketelitian tinggi. ANTARA menuliskan bahwa untuk menghasilkan inasua yang lezat dan awet, ikan harus dicuci bersih, tangan pengolah juga harus bersih, dan penanganannya tidak boleh sembarangan. Jika prosesnya higienis dan steril, inasua bisa bertahan lama. Bahkan disebut bahwa warna daging ikan putih akan berubah menjadi kemerahan setelah tersimpan dengan baik.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa inasua bukan makanan yang bisa dibuat asal campur garam. Ada pengetahuan praktis yang diwariskan turun temurun. Orang TNS memahami bahwa garam bukan hanya bumbu, tetapi alat pengawet. Namun alat itu hanya bekerja baik bila seluruh proses ditangani dengan benar. Kalau penanganannya salah, keawetan dan mutunya bisa turun. Karena itu, kebersihan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi ini.

Di luar pemberitaan budaya, abstrak riset yang terindeks di Garuda juga menyebut inasua sebagai produk ikan fermentasi tradisional dari Maluku Tengah, khususnya Teon, Nila, dan Serua, yang proses fermentasinya dipengaruhi oleh kadar garam, waktu, dan kondisi bahan. Ini menguatkan bahwa di balik kuliner tradisional tersebut ada proses ilmiah yang nyata, meski selama ratusan tahun dipraktikkan secara turun temurun di tingkat rumah tangga.

Ikan yang dipakai punya peran besar pada rasa dan nilai kulinernya

Bahan baku tentu menjadi inti dari inasua. ANTARA menyebut salah satu ikan yang dianggap istimewa untuk inasua adalah ikan gindara atau oilfish, yang ditemukan di perairan laut dalam Banda. Ikan ini dipandang sebagai tangkapan yang berharga dan tidak selalu mudah didapat. Karena itu, inasua dari bahan semacam ini memiliki nilai lebih, baik secara rasa maupun secara budaya.

Penggunaan ikan laut dalam juga memperlihatkan kedekatan masyarakat TNS dengan ruang laut yang luas. Mereka tidak hanya mengenal ikan ikan konsumsi umum, tetapi juga tahu mana tangkapan yang cocok untuk disimpan dan diolah menjadi inasua. Dari sini terlihat bahwa kuliner tradisional sebenarnya menyimpan pengetahuan tentang perairan, musim, dan karakter hasil tangkapan.

Namun yang paling penting adalah, apa pun jenis ikannya, prinsip inasua tetap sama: ikan diperlakukan sebagai sumber pangan yang harus dihargai. Bukan dihabiskan serampangan, tetapi diolah agar tahan lama dan bernilai lebih tinggi. Direktur Program Kelautan YKAN yang dikutip ANTARA juga menyebut inasua sebagai produk yang unik karena dapat memperpanjang masa simpan ikan, sehingga masyarakat tidak perlu menangkap dalam jumlah berlebihan demi mendapatkan nilai ekonomi.

Rasa inasua bertumpu pada garam, jeruk, kemangi, dan bawang

Bagian paling menggoda dari inasua tentu ada pada cara penyajiannya. Dalam laporan ANTARA, inasua umumnya disantap dengan perasan jeruk nipis, kemangi, bawang merah, dan cabai. Kombinasi ini membuat rasa ikan fermentasi yang asin menjadi lebih segar dan hidup. Jeruk memberi asam yang terang, kemangi memberi aroma hijau, bawang merah memberi tajam manis, sementara cabai menambah hentakan kecil di lidah.

Itulah sebabnya orang sering cepat mengaitkannya dengan sashimi. Saat disajikan, tampilannya bisa tampak ringan dan bersih. Tetapi ketika dicicipi, karakter inasua jauh lebih kompleks. Ada asin hasil fermentasi, ada wangi herba lokal, ada asam segar, dan ada jejak laut yang sangat terasa. Rasanya tidak sekadar “ikan mentah”, melainkan hasil dari proses panjang yang kemudian dibuka kembali dengan bumbu segar saat hendak dimakan.

Inasua biasanya disantap bersama nasi, pisang rebus muda, singkong, ubi jalar, atau sayuran, tergantung hasil kebun dan kebiasaan keluarga. Ini memperlihatkan bahwa ia bukan makanan tunggal, tetapi bagian dari satu susunan makan yang lebih luas. Dengan pendamping seperti itu, rasa asin dan tajam inasua menjadi lebih seimbang.

Bukan sekadar lauk, tetapi identitas masyarakat TNS

Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir dalam Festival Kor’a Inasua menegaskan bahwa inasua bukan hanya makanan, melainkan identitas dan kearifan lokal masyarakat TNS. Kalimat ini penting karena memperlihatkan bagaimana pemerintah daerah membaca posisi kuliner ini. Ia tidak dipandang sebagai produk dapur biasa, tetapi sebagai simbol yang merangkum sejarah, kebiasaan makan, dan pengetahuan lokal masyarakat Teon Nila Serua.

Identitas itu juga terlihat dari tradisi Kor’a Inasua, semacam pesta rakyat atau jamuan yang menjadikan inasua sebagai menu wajib dalam hajatan, acara adat, dan kegiatan keagamaan. Dalam festival yang digelar pada April 2026, warga TNS berbondong bondong menikmati inasua sebagai puncak acara. Ini menunjukkan bahwa inasua hidup bukan hanya di dapur rumah, tetapi juga di ruang komunal, tempat orang bertemu, merayakan, dan mengingat asal usul bersama.

Dalam banyak budaya, makanan yang bertahan paling lama biasanya adalah makanan yang tidak sekadar enak, tetapi juga punya fungsi sosial. Inasua jelas masuk dalam kategori itu. Ia hadir saat hajatan, jadi bekal budaya, sekaligus jadi penanda bahwa orang TNS masih memegang sesuatu yang diwariskan leluhurnya.

Inasua kini juga masuk ke wilayah kreasi modern

Menariknya, inasua tidak berhenti sebagai makanan tradisional yang hanya boleh disajikan dengan cara lama. ANTARA menulis bahwa dalam lomba kreasi pada Festival Kor’a Inasua, masyarakat TNS menghadirkan berbagai olahan modern berbahan dasar inasua, mulai dari perkedel, sate, bakso, pizza, ikan asam manis, sampai rendang. Ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional ini sedang bergerak ke ruang baru tanpa kehilangan akar aslinya.

Perkembangan ini penting karena sering kali makanan tradisional sulit bertahan bila hanya hidup di bentuk yang sangat lama dan tertutup. Dengan membuka ruang kreasi, masyarakat TNS memberi peluang agar inasua lebih mudah diterima generasi muda dan masyarakat luar. Pada saat yang sama, bentuk dasar tradisionalnya tetap dipertahankan sebagai rujukan utama.

Bagi penikmat kuliner nasional, sisi ini membuat inasua semakin menarik. Ia bukan artefak beku. Ia masih hidup, bisa diolah ulang, dan bisa berdialog dengan selera modern. Tetapi justru karena itu, bentuk aslinya tetap penting dikenali agar orang tidak lupa dari mana semua kreasi itu bermula.

Dari meja makan ke warisan budaya

Pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015 memberi posisi penting bagi inasua dalam peta kuliner Nusantara. Penetapan itu tercantum dalam dokumen keputusan kementerian dan juga ditegaskan berulang dalam laporan ANTARA terbaru. Status ini menunjukkan bahwa negara melihat inasua sebagai bagian dari kekayaan budaya yang layak dijaga, bukan sekadar resep lokal yang bisa hilang bersama pergantian generasi.

Bila diringkas, mengenal inasua berarti mengenal satu lapisan penting dari Maluku. Ada laut Banda, ada masyarakat Teon Nila Serua, ada memori relokasi ke Seram, ada kebutuhan menghadapi musim buruk, ada teknik fermentasi dengan garam, dan ada cara makan yang sederhana tetapi kuat. Semua itu bertemu dalam satu hidangan yang tampak ringan di piring, tetapi menyimpan sejarah panjang di belakangnya.

Karena itu, ketika orang menyebut inasua sebagai kuliner mirip sashimi dari Teon Nila Serua, kalimat itu sebaiknya dipahami hanya sebagai pembuka. Setelah itu, inasua harus dibaca dengan namanya sendiri, dengan sejarahnya sendiri, dan dengan rasa Malukunya sendiri. Ia bukan tiruan dari kuliner lain. Ia adalah bahasa laut dan ingatan masyarakat TNS yang bertahan sampai hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *